Dari Ibnu Umar RA. Rasulullah saw telah memegang bahuku seraya berkata: Jadilah kamu di dunia sepertimana kamu seorang dagang atau seorang pengembara dalam perjalanan.(Riwayat Bukhari)
Jika sebagian orang lebih senang mukim (berdiam / beranggapan bahwa dunia adalah tempatnya yang terakhir), maka kami adalah para pengembara, yang beranggapan hati, pikiran, dan jasad harus memiliki orientasi yang sama, tidak bersimpangan, yaitu bahwa dunia ini hanyalah halte pemberhentian sementara.
Sungguh, pertanyaan pengembaraan, ke mana tujuannya? Bekal apa yang akan dibawanya? Manfaat apa yang bisa diperolehnya saat di perjalanan maupun ketika sampai di ujung perjalananannya? Tahapan-tahapan maqomat apa saja yang harus dilalui ? Semua pertanyaan dan jawabannya akan membawa kami untuk mempersiapkan bekal dan terus bergerak melanjutkan perjalanan pengembaraan kami menuju kepada Allah, dengan penuh.
Pengalaman tumbuh dari hasil pengembaraan. Setiap pengembaraan ada dialog. Setiap dialog ada hikmah. Pengembaraan kebijaksanaan akan menebarkan tuah hikmah dan makna penggugah hati tuk menentramkan jiwa-jiwa yang gersang yang merindu akan untaian mutiara cahaya di dalam sanubarinya. Tuk mengisi jiwa-jiwa yang hampa, haus dan mati rasa agar kembali merasakan indahnya ketulusan dan kebahagiaan sejati
Jadilah kami para pengembara, yang berusaha keras untuk berjalan sepanjang ‘Jalan Allah’ walaupun dengan tertatih dan terseok, bahkan dengan kaki yang pincang.
Karena, sungguh, ilmu batinniah tidaklah bisa diungkapkan hanya dengan retorika kata. Harus dengan pengalaman batin yang merupakan kemestian bagi seorang murid salik yang ingin mencapai tingkat puncak. Pesuluk mesti mengalami proses sayr wa suluk dan tidak cukup hanya dengan teori ‘irfan semata. Bahkan teori ‘irfan pada akhirnya menenggelamkan seorang murid pada lumpur kesombongan serta menebalkan hijab-hijab kebodohan yang menjadikannya semakin bodoh untuk mengenal diri, apalagi mengenal Al Haqq.
Dan jika kau bukan seorang pengembara di dunia ruhani, setidaknya berupayalah untuk tak menyangkal maqam-maqam keruhanian dan ‘irfani, karena salah satu dari tipuan terbesar setan dan diri-badani, yang menghalangi manusia dari meraih berbagai maqam kemanusiaan dan keruhanian, adalah mendorong-dorong manusia untuk menyangkal atau bahkan melecehkan perjalanan ruhaniah menuju Allah.”
Maka, disinilah kami menuliskan perjalanan kami. Semoga dapat menjadi batu permata bagi mereka yang membacanya